Hari pertama tes penerimaan peserta didik baru 2017

Setelah kita lulus, tentu kita akan menjejaki sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi. Semakin tinggi pendidikan seseorang, tentu  perlu diikuti dengan perkembangan sikap. Tanpa sikap, ilmu bukan lain hanyalah teori. Sekarang, di SMAN Taruna Nala Jawa Timur telah berkumpul siswa-siswi dari berbagai daerah dengan tujuan satu, belajar.

(05/17) Pagi ini, panitia PPDB telah disibukkan dengan mengurus registrasi dan administrasi calon siswa baru. Tentu saja suasana sangat ramai, ditambah dengan orang tua yang ikut mengantar untuk memastikan bahwa anaknya telah siap mengikuti tes masuk hari pertama. Setelah melengkapi berkas yang diperlukan, para siswa diarahkan ke lapangan hijau untuk melaksanakan apel pembukaan. Tentunya dengan berbaris dan kondisi rapi. Selanjutnya, panitia PPDB memasuki ruangan Tes Potensi Akademik (TPA) masing-masing.

Di dalam ruangan, panitia mengecek dan mengamankan kelas dari kecurangan yang mungkin terjadi. Terlihat berbagai ekspresi calon siswa-siswi yang menandakan kesiapannya dalam mengikuti tes ini. Ada yang kelihatan cemas, panik, gelisah, bahkan ada yang tenang-tenang saja. Sebelum pengerjaan soal, para siswa terlebih dahulu berdoa, dipimpin melalui speaker dari ruang kesiswaan. Kemudian, dibacakan peraturan-peraturan selama tes berlangsung.

Tes pun dimulai, hanya terdengar keheningan melainkan suara coretan pensil dari hasil pemikiran seluruh siswa-siswi. Terlihat berbagai cara berpikir siswa telah diterapkan guna menyelesaikan soal sebaik mungkin dan menemukan jawaban yang benar. Ketukan pensil mereka menandakan tingkat dari soal yang sedang mereka kerjakan. Berbagai gerak-gerik mereka lakukan agar dapat menenangkan diri setelah mengerjakan soal.

Para orang tua diarahkan ke Community Service Center (CSC) demi menjaga kemanan dan kenyamanan area tes. Sambil menunggu putra-putrinya, mereka mengisi waktu dengan mengobrol. Ada yang sambil makan, ada yang hanya duduk dan berdiri, bahkan ada yang sambil menunaikan sholat sunnah. Sedang untuk mengisi perut, di kantin sudah tersedia jajanan ringan, bakso dan minuman. Selain itu, di sebelah kantin tersedia jajaran bazaar yang menggiurkan dengan  kisaran harga yang terjangkau, mulai dari Rp. 3.000,00 hingga Rp. 20.000,00.

Pukul 10.00 waktunya istirahat. Seluruh calon siswa keluar ruangan dengan berbaris rapi. Ada yang langsung ke CSC menemui orangtuanya, ada yang berkumpul dengan teman sekolahnya, ada yang berkunjung ke kantin dan bazaar untuk makan. Meski kantin dan ruangan bazarnya tak luas, tapi para pembeli tidak sampai berdesak-desakan. Mereka antri dengan tertib dan teratur. Sehingga, kondisi kantin tetap ramai terkendalikan.

Usai istirahat, para calon siswa berbaris lagi di lapangan hijau untuk pelaksanaan apel mengecek kelengkapan. Di tengah-tengah apel, calon siswa dibagikan formulir berkaitan dengan kesehatan. Setelah itu, secara bergantian di kamar mandi mereka mengenakan kaos pendek yang sebagai rangkapan seragam. Sambil menunggu calon siswa memakai kaos, panitia siswa mengecek ulang barang untuk persyaratan tes, bersama tim LAPETAL (Lembaga Penyedia Tenaga Angkatan Laut).

Dalam bentuk 8 kelompok barisan (KOMPI) para calon siswa bergeser ke gedung STEM. Di area bawah, 2 kelas digunakan untuk tes gigi dan tes jantung, serta 1 kelas untuk ruang tunggu. Pengecekan gigi adalah salah satu dari cek yang harus dilakukan, walaupun ada beberapa yang sudah periksa di RSAL (Rumah Sakit Angkatan Laut). Ketika sedang melakukan pengecekan pada para siswa, sempat terjadi pemadaman karena penggunaan listrik yang berlebih. Hal tersebut langsung ditanggulangi oleh staff sekolah dengan me-restart saklar.

Selain itu, ada pengecekan jantung, dimana laki-laki dan perempuan dipisahkan. Karena dalam pemeriksaan ini siswa-siswi diharuskan untuk melepas baju kemudian dibaringkan. Tubuh mereka dipasangi Elektrokardiograf untuh menggambarkan kondisi jantung setiap calon siswa.

Di ruangan lain (Aula STEM) yang dibagi menjadi 3 skat, digunakan untuk tes kesehatan umum, mata, THT dan varises. Sebelum masuk ruangan, siswa dan siswi bergantian laki-laki dan perempuan melepas seragam, sehingga hanya menggunakan kaos dan celana pendek. Sambil menunggu giliran, beberapa kelompok siswa (KOMPI) duduk tegak 3 banjar di koridor aula. Tak banyak aktivitas yang bisa mereka lakukan. Peserta siswi lebih dulu dipanggil ke dalam ruangan. Disana diukur tinggi badan (minimal 150 cm bagi wanita dan 155 cm bagi laki-laki), berat badan, dan hipertensi.

Di skat lain, siswi bergantian membaca snellen chart manual dengan menutup mata kiri dan kanan lalu  membaca buku ishihara. Selanjutnya cek varises dan THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) yang berada di skat tengah. Tes ini dilaksanakan secara tertutup, sehingga hanya calon siswa/i dan penguji saja yang berada di ruangan. Begitu seterusnya, setiap KOMPI bergiliran memasuki ruang tes. Hingga semua tes berakhir malam hari. Calon siswa pun beristirahat ke rumah atau penginapannya masing-masing dan menunggu esok hari.

Selama kegiatan, suasana hari ini cukup riuh tapi membingungkan, terutama ketika perpindahan tempat. Namun, selang beberapa lama, kondisi pun terkendalikan dan syukurnya tidak ada siswa yang mengeluh. Karena SMAN Taruna Nala Jawa Timur mencari benih yang baik untuk dibina dan dikembangkan menjadi pemimpin yang tangguh. Tak heran juga jika segala macam tes ini dilaksanakan demi calon bibit unggul. Seorang pemimpin memang harus mampu beradaptasi, baik dalam berpikir serta bertindak, baik secara fisik maupun mental. Sehingga, dapat bertahan dalam kondisi apapun dan membuat perubahan ke arah yang lebih baik.  (/phe) (/hsd)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *