(8/9) Diselenggarakan lomba baca puisi tingkat Korem bertempat di Korem 083/BDJ Kota Malang yang merupakan lanjutan dari lomba baca puisi tingkat Kodim dalam rangka HUT TNI ke – 71. Lomba ini dimulai pukul 08.00 WIB yang dibuka dengan doa dan sambutan dari Komandan Korem, setelah itu pemisahan ruang lomba, serta dilanjutkan dengan pengambilan nomor urut. Saya mendapatkan nomor urut 8 dari 18 nomor peserta, lalu dilanjutkan dengan perkenalan dewan juri, 2 juri dari UM dan 1 juri dari pihak Korem sebagai penyeimbang.

Ratih Nurmalita Hapsari

Perlombaan kali ini sangat berat karena terdapat 2 perwakilan dari masing-masing Kodim yang sudah jelas telah melalui tahap penyaringan. Lawan yang berasal dari daerah di Jawa Timur, yaitu Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, dll. Beberapa peserta sangat siap dengan make-up dan kostum gaya ala tentara, sedangkan saya perpenampilan biasa dengan menggunakan seragam LA tanpa scraft dan baret ditambah lagi saya mendapat panggilan untuk mengikuti lomba ini sangat mendadak,lebih tepatnya H-1. Sehingga saya memanfaatkan waktu satu hari itu hanya untuk latihan vocal dan ekspresi saja, selebihnya saya hanya mengandalkan potensi dan penghayatan,saya pun juga sempat down karena melihat lawan saya adalah seorang pembaca puisi kelas nasional. Tetapi yang ada dalam mindset saya adalah “saya ditunjuk untuk berdiri disini berarti saya diberi kepercayaan bahwa saya bisa melakukannya semaksimal mungkin dan saya akan tampil sesuai dengan karakter saya sendiri.” Dengan begitu saya merasa ringan ketika tampil,dan saya tidak berhenti untuk membaca surat Al-Fatihah dan ber-sholawat. Pukul 10.30 WIB lomba baca puisi telah usai dan diakhiri dengan evaluasi dari dewan juri, dari sanalah saya bisa mengoreksi dimana kurangnya saya dan saya bisa menambah ilmu dari sana.

Pukul 12.00 WIB adalah penentuan pemenang lomba juara 1, 2, dan 3 yang akan mewakili Korem di tingkat Kodam, Surabaya. Pengumuman pun dimulai dari lomba paduan suara dan dilanjutkan dengan pengumuman lomba baca puisi, saya merasa gugup dan pasrah. Ketika itu terlintas di pikiran saya bahwa “Dalam suatu kompetisi kita itu dituntut untuk menang,akan tetapi jika kita siap menang maka kita juga harus siap kalah ” berpikiran seperti itu,saya tidak akan menyesal ketika kalah akan tetapi saya akan mengambil manfaat dari perlombaan tersebut. Pengumuman dimulai dari juara 3 dan 2 yang ternyata bukan nomor saya yang disebutkan. Alhamdulillah,tidak menyangka nomor saya disebutkan sebagai peraih juara 1 Lomba Baca Puisi. Saya sangat berterima kasih kepada bapak/ibu guru dan semuanya yang telah memberi dukungan kepada saya. (rat)

By