YANG TERUCAP TERBAWA ANGIN, YANG TERTULIS AKAN ABADI

 

JAKARTA-Ini adalah kali kedua bagi Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lomba Esai Sosial Budaya tingkat Nasional. Setelah tahun lalu dengan tema “Harmoni Dalam Perbedaan”, pada tahun ini, mengangkat tema “Kaum Muda dan Budaya Demokrasi”. Durasi lomba yang telah dibuka sejak Maret 2014 ini telah menjaring sebangak 1386 naskah esai yang dikirimkan lewat email dan sebanyak 86 naskah esai yang dikirimkan melalui pos. Dari naskah sebanyak itu, kemudian diseleksi oleh panitia sehingga tersisa 100 naskah esai. Kemudian dari 100 naskah esai tersebut diserahkan kepada dewan juri untuk dipilih 15 naskah terbaik yang akan mengikuti final di Jakarta pada 21-24 Juni 2014.

Dewan juri dalam ajang kompetisi ini adalah: Dr. Donny Gahral Adian (Pengamat Demokrasi dan Dosen Filsafat UI), Dr. Ali Humaedi (Peneliti PMB-LIPI), S. Dloyana Kusumah (Peneliti Puslitbang Kebudayaan), Putu Fajar Arcana (Redaktur Budaya Kompas), dan Setiawati Intan Savitri (Forum Lingkar Pena). SMAN 10 Malang berhasil memasuki babak final, kali ini diwakili oleh M.Arif Wicaksono yang mengangkat topik media sosial dalam mematangkan budaya demokrasi di negeri  mempresentasikan tulisannya di hadapan dewan juri tersebut dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

M. Arief Wicaksono - Presentasi Lomba Esai Sosial Budaya Tingkat Nasional 2014

Sebelum itu, pada tanggal 21 Juni 2014, Dr. Alie Humaedi, salah seorang dewan juri dari LIPI memberikan sedikit materi sekaligus inpirasi kepada para finalis tentang menulis. Ia mengisahkan tentang dirinya yang rela keluar dari zona nyaman untuk penelitian-penelitian yang seringkali dianggap sepele oleh orang lain. Selain itu,  para finalis diajak untuk melakukan kunjungan ke sejumlah museum, yaitu: Museum Bank Indonesia, Museum Fatahilla, dan Museum Nasional.

Setiap finalis, diberikan waktu 10 menit untuk presentasi dan 10 menit untuk tanya jawab dengan dewan juri. Selain tentang media sosial, banyak juga peserta yang mengangkat isu-isu tentang kearifan lokal. Bapak Hurip Danu, Kepala Pustilbang Kebudayaan, menyatakan optimismenya melalui kegiatan ini. Ia yakin bahwa generasi muda telah bersiap dan semakin matang untuk mengawal masa depan bangsa. Demikian juga dengan yang disampauikan oleh Ibu S. Dloyana, salah satu juri, sangat mengapresiasi setiap karya yang benar-benar hasil pemikiran dan gagasan sendiri dari masing-masing peserta.

M. Arief Wicaksono - nomor 4 dari kanan

Dari babak final ini, diperoleh sebanyak enam kategori juara: Arini Ayatika Sadariskar (Juara 1); Alief Moulana (Juara II ); Citra Anggia Fathia (Juara III); Putri Demes Dharmesty (Harapan I); Cicilia Yeo (Harapan II); dan Mochammad Arief Wicaksono (Harapan III). Lima belas naskah terbaik dari para finalsi ini, kemudian akan dibukukan dan disebarluaskan ke setiap instansi pemerintah dan masyarakat. (arf)

By