Jika sudah sukses nanti, berikan gaji pertama kalian kepada Ibu – Helmy Yahya

Ada yang spesial dalam acara graduasi SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy), karena acara yang sakral tersebut kedatangan seorang bintang tamu yang namanya tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, khususnya untuk seluruh undangan dan audience yang hadir di Ballroom Hotel Harris Malang. Sorak sorai tepuk tangan dari para audience dan undangan menggelora ketika nama sang bintang tamu mulai dipanggil oleh MCgraduasi. Beliau adalah Helmi Yahya.

IMG_0912

“Suatu kebanggan bagi saya dapat berdiri disini menghadiri acara graduasi sekolah yang begitu luar biasa. Apalagi, saya diharuskan untuk memberikan sambutan selama 10 menit padahal biasanya saya berbagi pengalaman saya lebih dari 1 jam lamanya” ungkap beliau mengawali pidato yang diikuti gelak tawa dari penonton. Pada awal pidatonya, beliau menjelaskan mengenai background keluarga. Beliau mengungkapkan bahwa beliau terlahir dari keluarga yang sangat kekurangan. Ayah beliau hanya seorang pedagang kaki lima. Namun, semangat beliau dan kakaknya Tantowi Yahya tidak pernah surut dalam belajar dan terus mengejar impian mereka. “Ayah saya bahkan rela menjual tanah yang merupakan satu-satunya harta beliau selain rumah yang beliau tinggali hanya untuk biaya saya dan Tantowi agar bisa kuliah di Jawa” ungkap beliau menahan tangis. Akhirnya beliau masuk ke STAN dan menjadi lulusan terbaik saat itu. “Nothing is impossible and impossible is nothing. Tak ada mimpi yang tidak dapat dicapai” beliau menambahkan.

IMG_0935

Tepuk tangan demi tepuk tangan senantiasa bergelora saat beliau berada di atas panggung. Para hadirin terlihat sangat menikmati cara beliau bercerita dan berbagi pengalaman. Tidak hanya bercerita tentang waktu ketika beliau dan keluarga benar-benar berada pada masa prasejahtera, akan tetapi juga bercerita bagaimana beliau mulai bangkit dan perlahan menorehkan prestasi. “Usia remaja adalah usia emas.  Pintar saja tidak cukup. Diperlukan kemampuan lain seperti enterpreneurship, leadership dan communication yang baik”. Selain hal diatas, motto yang selalu beliau bawa hingga sekarang adalah never stop learning. Teruslah belajar selagi sanggup”. (RAF)

By